Kritik Nietzsche atas Moral Kristiani

Posted: February 7, 2010 in Filsafat

Gaya filsafat Nietzsche sulit terselami. Warisan karyanya kebanyakan ditulis dalam bentuk aforisme-aforisme yang tidak mudah untuk dipahami maksudnya. Jika hendak mengetahui Jenis Filsafat Nietzsche, kita harus hati-hati dalam membaca teksnya, tidak serta-merta memberikan interpretasi atasnya karena bisa keliru memahaminya. Atau, dengan kata lain, justru kita malah mengambil jarak terhadap pemikirannya.

Salah satu karyanya yang bagi saya menarik dan cukup mengejutkan pada abad ke sembilan belas adalah “Beyond Good and Evil”(selanjutnya akan disingkat BGE), meskipun pengaruhnya sekarang sudah tidak dirasakan begitu besar.[1] Karya tersebut bersama dengan “On the Genealogy of Morals: merupakan pemikirannya tentang moralitas dan menjadi salah satu karya dari lima atau enam karya tentang teori etika sekular yang cukup berpengaruh.[2] Untuk mengawali pembahasannya (kritik) soal moral, Nietzsche menjelaskan perumpamaan dua Kelompok manusia, yakni kelas Aristokrat dan kelas budak atau kelompok rakyat kecil.

Moralitas Tuan dan Moralitas Budak

Dari dua jenis kelompok manusia tersebut muncul dua macam moralitas: Moralitas Tuan dan Moralitas Budak. Dalam Moralitas Tuan atau aristokrat, “yang baik” adalah gagasan tentang kebesaran, kuasa, atau keagungan serta rasa bangga, dan “yang buruk” identik dengan hina, rendah, dan jahat. Kelas Tuan akan melihat dirinya dan penampilannya sebagai yang unggul (superior). Patokannya adalah dirinya sendiri. Kelas Tuan adalah teladan moral bagi dirinya sendiri. “Saya adalah ideal diri saya sendiri!” [3] Kelas Tuan menganggap bahwa diri mereka sebagai “nilai” yang sejati, memutuskan apa yang baik dan tidak. “Yang baik” berasal dari kebahagiaan atas perolehan kekuasaan dan kebesaran seseorang itu sendiri. Mereka tidak butuh pengakuan dari orang lain bahwa mereka “baik”. Mereka memuja diri mereka sendiri, dan mengabdi pada apa pun yang hebat. Mereka hanya mengenal tanggung jawab moral terhadap sesama Aristokrat. Bagaimana memperlakukan orang-orang yang lebih rendah dari mereka tidak sedikit pun menjadi urusan moral.[4]

Moralitas Budak (the slave) secara psikologis lebih rumit dan menarik. Moralitas Budak sejak awal merupakan reaksi atas Moral Tuan. Tidak seperti Moral Tuan, budak terikat dalam sebuah kerangka berpikir dan keadaan kurang akan justifikasi atas dirinya. Sikap budak tersebut dalam keputusaannya mengatasi kenyataan bahwa sebenarnya mereka itu kelompok yang “kalah” jika memakai patokan Moralitas Tuan. Para budak itu tidak memiliki kuasa dan previlese (hak istimewa) sebagaimana yang dimiliki oleh Aristokrat. Para budak itu bahkan kehilangan segala hal yang dianggap baik oleh kelas Aristokrat atau Tuan.[5]

Watak atau sikap para Tuan itu Jahat, dan yang baik adalah yang tidak ada dalam diri mereka. Pusat perhatian para budak adalah gambaran tentang penderitaan, apa pun yang berguna atau melawan penindasan adalah “yang baik”. Dalam rangka perlawanan terhadap kaum Aristokrat, para budak menganjurkan kerendahan dan kesabaran. Moralitas Budak menekankan “kebaikan dari dalam” (inner goodness).[6] Budak adalah moralitas orang kecil, kawanan, lemah, moralitas orang yang tidak mampu untuk bangkit dan menentukan hidupnya sendiri dan oleh karena itu lalu merasa sentimen (ressentiment) atau iri terhadap yang lebih kuat dan berkuasa. Ressentiment menjadi awal bagi kelas budak untuk memulai perlawanan mereka terhadap kelas tuan.[7] Mereka ini tidak mau ditindas, namun sekaligus juga tidak mampu membebaskan diri dari penindasan. Maka dari itu, mereka memutarbalikkan semua nilai yang dianggap positif oleh kelas tuan. Para budak hanya mampu melakukan perlawanan terhadap kelas tuan dalam batas ide atau pemikiran. Mereka tidak mampu melakukan pembalasan dalam tindakan nyata.

Magnis berpendapat bagaimana konkretnya moralitas tuan itu, apakah artinya sikap-sikap seperti “luhur” dan “mulia”? Apakah moralitas tuan lebih dari kebencian terhadap yang lemah? Jika memang demikian bukankah moralitas tuan merupakan moralitas berdasarkan sentimen? Yang jelas Nietzsche berfokus pada nilai-nilai vital, insting, pengembangan diri, dan keberanian untuk mengikuti kepentingan sendiri. Moralitas tuan pada gilirannya akan melahirkan manusia super.[8]

Moral Kristiani sebagai Moral Budak

Kritik terhadap Moral Kristen merupakan bagian yang mendapat porsi cukup banyak dalam karya Nietzsche. Moral Kristiani dia kritik karena menyangkal eksistensi hidup manusia.[9] Moral Kristen dianggap telah menghambat kemajuan hidup manusia dari pencapaian potensi maksimalnya. Bagi Nietzsche, eksistensi manusia yang paling tinggi adalah ketika manusia mampu mengembangkan dirinya, atau hidup dengan memaksimalkan potensi yang ada dan memiliki kehendak untuk berkuasa.[10] Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana Moral Kristiani menyangkal eksitensi hidup manusia, kita harus menangkap konsep tentang “hidup yang maju” (flourishing life) dalam istilah Nietzsche. Hidup yang berkembang dan penuh dengan vitalitas itu bagi Nietzsche adalah hidup yang sehat, punya daya kuasa dan kekuatan untuk hidup mandiri. Ciri kemandirian dan kemampuan untuk menjamin hidupnya sendiri merupakan karakteristik dari manusia yang sudah maju (BGE, 212).

At present, on the contrary, when throughout Europe the herding-animal alone attains to honours, and dispenses honours, when ‘equality of right’ can too readily be transformed into equality in wrong—I mean to say into general war against everything rare, strange, and privileged, against the higher man, the higher soul, the higher duty, the higher responsibility, the creative plenipotence and lordliness—at present it belongs to the conception of ‘greatness’ to be noble, to wish to be apart, to be capable of being different, to stand alone, to have to live by personal initiative, and the philosopher will betray something of his own ideal when he asserts ‘He shall be the greatest who can be the most solitary, the most concealed, the most divergent, the man beyond good and evil, the master of his virtues, and of super-abundance of will; precisely this shall be called GREATNESS: as diversified as can be entire, as ample as can be full.’ (BGE, 212)

Dalam proses untuk menjadi maju manusia juga harus melewati situasi yang menyakitkan yang akan dialami terus-menerus. Maka, untuk membentuk karakternya, orang yang sudah maju harus menerima juga kelemahan, di samping mengunggulkan kelebihannya. Penerimaan akan dua hal itu menjadi sarana dalam mencapai kemajuan hidup seseorang.

Bagi Nietzsche, Moral Kristen tidak mengantar orang untuk menjadi berkembang. Moral Kristen justru membuat orang menjadi tidak berdaya, lemah, dan menyangkal eksistensi hidupnya. Eksistensi hidup manusia adalah membiarkan manusia terbebas dari segala kekangan untuk mengejawantahkan segala daya-daya, hasrat, nafsu, keinginan, dan yang terutama adalah kehendak untuk berkuasa. Sedangkan, Moral Kristen memiliki karakteristik yang sama dengan Moral Budak. Moral Kristen meningkatkan kualitas yang dipandang buruk oleh kaum Aristokrat seperti, “belas kasihan, penurut dan suka menolong, kehangatan, sabar, ketekunan, rendah hati, dan persahabatan. Kualitas-kualitas tersebut dihargai oleh kelas budak karena berguna dalam meringankan beban seseorang.

…On the other hand, THOSE qualities which serve to alleviate the existence of sufferers are brought into prominence and flooded with light; it is here that sympathy, the kind, helping hand, the warm heart, patience, diligence, humility, and friendliness attain to honour; for here these are the most useful qualities, and almost the only means of supporting the burden of existence. Slave-morality is essentially the morality of utility. Here is the seat of the origin of the famous antithesis ‘good’ and ‘evil”:—power and dangerousness are assumed to reside in the evil, a certain dreadfulness, subtlety, and strength, which do not admit of being despised. According to slave-morality, therefore, the ‘evil’ man arouses fear; according to mastermorality, it is precisely the ‘good’ man who arouses fear and seeks to arouse it, while the bad man is regarded as the despicable being… (BGE, 260)

Fokus dalam meringankan beban orang lain itu adalah pusat perhatian kelas budak, seperti dalam Kristen. Kelas budak menolak segala yang alamiah dan instingtif dalam hidup manusia. Penekanan terhadap insting manusia dan nafsunya oleh Moral Kristen ini menjadi pokok dari kritik Nietzsche. Tekanan terhadap insting dan hasrat manusia akan menimbulkan sikap atau tindakan yang berbahaya dan bodoh. Moralitas diciptakan dalam hal ini oleh mereka yang lemah, yang tidak dapat mengontrol insting mereka. Mereka menjadi Moralis Kristen karena askese total adalah satu-satunya jalan untuk mengontrol diri mereka.

Kristianitas mengebiri orang dengan aturan-aturan moral dengan menjunjung tinggi nilai-nilai yang dianggap baik menurut mereka (rendah hati, penderitaan, askese, dll). Yang baik bagi kelas tuan: kekuatan, keberanian, kekerasan, tekad untuk menentukan nasib diri sendiri, dianggap buruk oleh Moralitas Budak.[11] Moralitas Kristen adalah sebagai The Decadence. Kristianitas membawa orang pada melemahnya daya kekuatan dan semangat hidup (vitalitas), dan seluruh kelemahan menjadi borok dalam diri manusia.

Nietzsche menganjurkan orang dapat dan harus dilatih dalam seni mengontrol insting mereka, dan menggunakannya untuk hal-hal yang menguntungkan. Nietzsche menganggap, besarnya kekuatan insting atau hasrat manusia mampu membuat dan membebaskan diri mereka sendiri sebagai penentu dalam kemajuan dan kesehatan manusia.[12]

Daftar Pustaka

Coplestone, Frederick, Friedrich Nietzsche. Philosopher of Culture, New York: Harper & Row, 1942

Coplestone, Fredrick, A History of Philosophy, Vol. VII, London: Burns and Oates Limited, 1963

Solomon, Robet C., Living with Niezsche, New York: Oxford University Press, 2003

Suseno, Franz Magnis, 13 Tokoh Etika, Yogjakarta: Kanisius, 1997

Sumber Internet

Lacewing, Michael, Nietzsche on Master and Slave Morality, http://www.routledge.com/textbooks/philosophy/downloads/a2/unit4/nietzsche/NietzscheMasterSlave.pdf dalam diakses pada, pkl. 14.06, 01 Desember 2009

Moosa, Shaheen, Nietzsche’s Critique of Christian Morality, dalam http://www2.sbc.edu/honors/documents/Moosa_000.pdf, diakses pada pkl. 20.02 WIB, 30 Desember 2009


[1] Coplestone, Fredrick, A History of Philosophy, Vol. VII, 1963, London: Burns and Oates Limited, hlm. 390

[2] Kelima atau keenam karya tentang Moral itu disebutkan dalam Solomon, Robet C., Living with Niezsche, 2003, New York: Oxford University Press, hlm. 44. Di antaranya adalah Plato berkaitan mengenai masyarakat sempurnanya; Aristoteles tentang gambaran kebahagiaan, hidup yang bermoral; Kant dengan analisis moral dan alasan praktisnya; John Stuart Mill yang memberikan prinsip kegunaannya.

[3] Solomon, Robert C., hlm. 46

[4] Lacewing, Michael, Nietzsche on Master and Slave Morality, http://www.routledge.com/textbooks/philosophy/downloads/a2/unit4/nietzsche/NietzscheMasterSlave.pdf dalam diakses pada, pkl. 14.06, 01 Desember 2009

[5] Solomon, Robert, hlm. 46

[6] Ibid. hlm. 47

[7] Coplestone, Fredrick, A History of Philosophy, Vol. VII, 1963, London: Burns and Oates Limited, hlm. 401

[8] Suseno, Franz Magnis, 13 Tokoh Etika, 1997, Yogjakarta: Kanisius, hlm. 202

[9] Coplestone, Frederick, Friedrich Nietzsche. Philosopher of Culture, 1942, New York: Harper & Row, hlm. 100

[10] Ibid, hlm. 101

[11] Suseno, Franz Magnis, hlm. 202

[12] Moosa, Shaheen, Nietzsche’s Critique of Christian Morality, hlm. 8, dalam http://www2.sbc.edu/honors/documents/Moosa_000.pdf, diakses pada pkl. 20.02 WIB, 30 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s