Demokritos (460-370 SM)

Posted: February 7, 2010 in Filsafat

Demokritos (460-370 SM) adalah pendahulu sebuah konsepsi yang akan bertahan lama. Ia mengawali paham atomisme! Demokritos berasal dari Abdera, dan mencapai puncak karirnya sebagai pemikir di pertengahan abad ke-5 SM. Dari banyak karya yang berhubungan dengannya, masih ada sekitar 300 fragments. Dalam fragmen-fragmen tersebut kebanyakan berbicara tentang filsafat moral.

Pemahaman akan teori “atomisme” dari Demokritos tergantung dari pendapat-pendapat dan kritikan Aristoteles atas Demokritos. Sebenarnya, bukan Demokritos yang menemukan “atomisme”. Leukippos-lah, gurunya, yang menemukan. Sayangnya, Leukippos tidak banyak meninggalkan laporan atau tulisan. “Menurut beberapa orang, Leukippos berasal dari Elea, sementara menurut orang lain ia berasal dari Abdera; ia dulu adalah murid Zenon” (DK 67A 1, Diogenes Laertios, IX 30). Nama Leukippos biasanya akan diikuti oleh nama muridnya, Demokritos sebagai pengusul teori “atomisme”:

Hidup dan Karyanya

Demokritos lahir di kota Abdera di pesisir Thrake di Yunani Utara. Ia hidup kira-kira dari tahun 460 SM sampai tahun 370 SM. Ia berasal dari keluarga kaya raya. Pada masa mudanya, ia melakukan perjalanan ke Mesir dan negeri-negeri timur lainnya sehingga menambah luas wawasan dan pengetahuannya. Di negeri-negeri yang dia kunjungi, Demokritos banyak melakukan studi. Demokritos dipandang sebagai seorang sarjana yang menguasai banyak lapangan keahlian. Pengaruh mazhab Elea dan Pythagoras sangat mencolok dalam pemikirannya. Anekdot yang hidup di zaman kuno menjulukinya “filsuf yang tertawa” sebagai lawan dari Heraklitos, “filsuf yang menangis”. Demokritos mewarisi banyak tulisan filosofis dan pengetahuan ensiklopedia tentang alam, struktur dunia, manusia, roh, pengenalan inderawi, warna, namun hampir semua teks itu hilang. Yang tersisa hanyalah beberapa fragmen.

Sebetulnya, Demokritos tidak boleh dihitung lagi sebagai filsuf pra-sokratik, karena usianya lebih muda dari Sokrates. Tetapi ada beberapa alasan yang menyebabkan bahwa Demokritos sebaiknya dibicarakan dalam rangka filsafat pra-sokratik. Pertama, Demokritos merupakan murid Leukippos, yang termasuk dalam filsafat pra-sokratik. Ajaran Leukippos tentu tidak dapat dipisahkan dari ajaran Demokritos yang tidak dipengaruhi oleh filsafat gaya baru yang berkembang di Athena dalam kalangan Sokrates. Kedua, di Athena, filsafat Demokritos cukup lama tidak dikenal. Plato tidak mengetahui atomisme, tetapi Aristoteles, yang juga berasal dari Yunani Utara, menaruh perhatian besar untuk pandangan atomisme.

Karya Demokritos diperoleh dari laporan orang kedua, yang kadang-kadang tidak dapat diandalkan atau bertentangan. Sebagian besar bukti terbaik adalah bukti yang dilaporkan oleh Aristoteles, yang menghormatinya sebagai saingan penting di dalam filsafat alam. Aristoteles menulis sebuah risalah pada Demokritos, hanya beberapa paragraf dikutip dalam sumber-sumber lain yang masih ada. Demokritos tampaknya mengambil alih dan menyusun pandangan Leukippos, atas beberapa yang ia ketahui. Meskipun ada kemungkinan untuk membedakan beberapa sumbangan karya-karya Lekippos, kebanyakan laporan besar menunjuk, baik mereka berdua, maupun Demokritos sendiri; pengembang sistem atomis pada dasarnya sering dianggap Demokritos.

Diogenes Laertius mendaftar banyak karya Demokritos di berbagai bidang, termasuk etika, fisika, matematika, musik dan kosmologi[1]. Dua karya, the Great World System dan the Little World System, kadang-kadang dianggap berasal dari Demokritos, meskipun Theophrastus melaporkan bahwa yang lebih dulu adalah oleh Leukippos (DK 68A33). Ada ketidakpastian lebih banyak lagi mengenai keaslian laporan atas pembicaraan etika Demokritos. Dua kumpulan pembicaraan yang tercantum dalam abad kelima sebelum masehi antologi Stobaeus, satu dianggap berasal dari Demokritos dan yang lain dianggap berasal dari yang lain yang tidak dikenal filsuf penganut Demokritos.

Teori Atom

Filsuf-filsuf atomis juga berusaha memecahkan masalah yang diajukan mazhab Elea. Di satu pihak, seperti Empedokles dan Anaxagoras, Leukippos dan Demokritos pun berpendapat bahwa realitas seluruhnya bukanlah satu, melainkan terdiri dari banyak unsur. Tapi, di lain pihak mereka bertentangan dengan Empedokles dan Anaxagoras dalam hal pembagian sampai tak berhingga. Leukippos dan Demokritos berpikir bahwa ketika membagi-bagi sebuah benda, pembagian itu akan sampai pada unsur-unsur yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Maka dari itu, unsur-unsur tersebut diberi nama atom.

Atom berasal dari kata atomos, a berarti tidak dan tomos berarti terbagi. Jumlah atom tidak berhingga. Atom-atom merupakan bagian-bagian materi yang begitu kecil sehingga tidak dapat diinderai[2]. Perbedaan yang lain lagi dengan anasir-anasir Empedokles dan benih-benih Anaxagoras adalah bahwa atom-atom itu sama sekali tidak memiliki kualitas tertentu, misalnya panas, dingin, kering lembab, manis, atau pahit. Semua atom sama. Atom yang satu berbeda dari atom yang lain karena ukuran dan bentuknya.

Demokritos memberikan bentuk kepada setiap rasa. Ia mengatakan bahwa yang manis terbuat dari apa yang berbentuk bulat dan memiliki ukuran yang proporsional; yang pahit terbuat dari apa yang besar, kasar, dan polygonal serta tidak bulat; yang asam, sebagaimana namanya menujukkan, terbentuk dari apa yang tajam, bersudut banyak, bengkok dan halus; rasa yang kasar terbentuk dari apa yang berbentuk bulat sekaligus halus, bersudut tajam dan bengkok; yang asin terbentuk dari apa yang berbentuk tajam, tidak terlalu besar, berkelok-kelok, dan kecil ukurannya; yang rasa lemak terbuat dari apa yang halus, bulat dan kecil (Theophrastes, de caus. plant VI 16).

Seperti Empedokles dan Anaxagoras, para atomis juga mengembangkan ajaran materialistis tentang perubahan (genesis). Tidak ada perubahan secara kualitatif, yang ada hanyalah perubahan kuantitatif. Atom-atom yang tidak memiliki kualitas itu bisa berbeda konsentrasinya di tempat yang berbeda-beda. Perubahan kualitatif, seperti panas atau dingin, keras atau lunak, pahit atau manis, atau warna tidak lain merupakan perubahan jumlah atau perubahan lokasi dari atom-atom itu. Perubahan kualitatif hanyalah kesan yang ditangkap secara subyektif oleh panca indera. Indera menerjemahkan teks alam yang bersifat kuantitatif dan obyektif itu ke dalam bahasa subyektif yang melukiskan kualitas-kualitas. Kualitas-kualitas hanya sebenarnya hanya terdapat pada si subyek saja. Dengan kata lain, kualitas-kualitas bersifat subyektif, meksipun diakibatkan oleh sesuatu yang obyektif, yakni atom-atom[3]. Misalnya, berkurangnya jumlah atom di satu titik ditafsirkan oleh indera sebagai “lunak” atau “asam”.  Bagi Demokritos, perubahan dalam arti sesungguhnya adalah proses di mana atom-atom (sebagai elemen terakhir yang tak terbagikan lagi) saling bertabrakan secara niscaya, mengikuti hukum mekanis, untuk berkumpul atau bertebaran tanpa memiliki tujuan apa pun. Seperti permainan LEGO, elemen-elemennya bisa digunakan secara tak terbatas untuk mendapatkan macam-macam konstruksi secara tak terbatas.

Saat atom-atom saling berdekatan dan saling berbenturan atau berlibatan, campuran yang muncul akan menampak dalam bentuk air atau api atau tumbuh-tumbuhan atau manusia, tetapi sebenarnya, satu-satunya hal yang ada adalah apa yang disebut bentuk-bentuk yang tak terbagi – tidak ada yang lain selain itu  (DK 68A 57, Plutarchus, Adversus coloten, Moralia 1111 a).

Para atomis berpendapat bahwa atom-atom itu selalu bergerak. Leukippos dan Demokritos menganggap gerak atom sebagai gerak spontan karena tidak mengenakan berat pada atom-atom. Demokritos membandingkan dengan apa yang terlihat, sinar matahari yang memasuki kamar yang gelap gulita melalui celah-celah jendela, atau debu yang bergerak ke semua jurusan, meski tidak ada angin yang membuatnya bergerak. Atom juga bergerak ke segala arah. Kadang-kadang, secara kebetulan begitu saja, atom itu saling bertabrakan, saling menyenggol dan mendorong satu sama lainya, saling tersudutkan bersama-sama, bertumpukan membentuk sebuah konglomerat (latin: conglomero berarti mengumpulkan),  bertumpuk-tumpuk, lalu menampak menjadi tubuh yang kelihatan, dan dengan cara demikianlah kosmos kita terbentuk. Para atomis merasa tidak perlu untuk menjelaskan penyebab yang mengakibatkan gerak tersebut. Kembali mereka bertentangan dengan Empedokles dan Anaxagoras atas pendapatnya mengenai Cinta dan Benci atau nus (roh) sebagai penyebab gerak. Adanya ruang kosong sudah cukup sebagai syarat yang memungkinkan gerak atom. Demokritos mengatakan, dunia terdiri dari atom-atom dan ruang kosong.

Tentang Kekosongan

Bagi Demokritos, kekosongan adalah “ketiadaan”. “Ketiadaan” itu bagi Demokritos ada! Argumentasi yang dikatakan Demokritos tampak serba kontradiktif: yang “tidak ada” ada dan yang “tidak ada” tidak ada. Kekosongan adalah kenyataan yang ada. Sekarang ketika atom-atom datang bersamaan, mereka menghasilkan generasi; ketika mereka berpisah satu sama lain, mereka menghasilkan perubahan. Bagi Leukippos dan Demokritos, atom-atom merupakan elemen positif dalam kenyataan. Gerakan mereka, bagaimanapun, memerlukan ke’ada’an kekosongan atau vakum. Kekosongan atau ketiadaan sama ‘ada’nya dengan atom-atom. Oleh karena itu, setiap ke’ada’an (penampilan fisik), disusun dari beberapa atom-atom yang terpisahkan satu sama lain oleh kekosongan[4]. Tubuh yang kelihatan ini, sebagaimana dikatakan Demokritos, bukanlah sebuah “nature”. Tubuh yang kelihatan ini hanyalah tumpuk-tumpukkan begitu saja dari atom-atom. Struktur terbentuk, lalu terpecah lagi, dan elemen yang sama bisa dipakai untuk membentuk struktur yang baru lagi.

Penyebab gerakan atom-atom adalah ketiadaan, tetapi juga “nature”  ketidak-stabilitasan mereka: atom-atom, secara “nature”, berada dalam gerakan yang tetap atau konstan.

Atom-atom bergerak dalam kekosongan (yang tiada) berdimensi tak terbatas. Atom-atom terpisah dari satu sama lain dan dibedakan menurut jumlah, bentuk, letak, dan urutan. Dalam gerakan mereka, mereka bertubrukan satu sama lain. Sebagai hasilnya, beberapa terlempar ke arah yang tak tentu di jurusan yang berbeda, ketika yang lain bercampur dan berpadu dengan tenang karena bentuk, ukuran, letak, dan susunan mereka yang saling melengkapi/ mengisi: kesatuan ini dengan satu sama lain dan melipatgandakan kumpulan-kumpulan            (DK 67 A 1)[5].

Penutup

Demokritos membedakan pengenalan inderawi dengan pengenalan rasional. Pengenalan inderawi itu tidak benar, karena tidak memberitahukan bagaimana kenyataan itu sendiri. Pancaindera tidak mampu mengamati atom-atom. Pengenalan rasional ini memperkenalkan pada realitas yang sebenarnya. Maka, Demokritos dekat dengan Parmenides yang juga mengatakan indera tidak dapat dipercaya dan bahwa manusia harus memihak rasio. Dalam fragmen 125 pancaindera menyapa rasio demikian:

“Hai, Rasio yang malang! Engkau menyanggah kami (pancaindera) dengan argumen-argumen yang berasal dari kami sendiri. Dengan menyangkal kami engkau sendiri akan akan jatuh juga.”

Dalam pada ini, Demokritos mengalami kesukaran. Bagaimana jika jiwa juga merupakan kumpulan dari atom-atom? Para atomis tidak mengenal Tuhan, tetapi hanya atom-atom dan kekosongan[6]. Dalam teori Demokritos, bukan pada tempatnya membedakan antara pengenalan inderawi dan dengan pengenelan rasional. Anggapan Demokritos adalah bahwa setiap macam pengenalan itu hanya merupakan proses jasmani saja. Seluruh realitas direduksir menjadi unsur-unsur kuantitatif saja, yakni atom-atom. Bagi Demokritos dan penganut atomisme, materi, yakni atom, tidak memerlukan pencipta karena atom-atom itu tidak pernah tidak ada. Dunia dilukiskan sebagai suatu sistem mekanistis, gejala-gejala yang ada tidak lebih merupakan akibat dari perubahan-perubahan atom-atom. Dengan demikian harus dikatakan bahwa ajaran Demokritos merupakan materialisme. Mereka menyamakan realitas seluruhnya dengan unsur-unsur material saja. Tidak ada tempat bagi sesuatu yang tidak material. Maka, atomisme dianggap sebagai dasar bagi semua sistem materialistis dan mekanistis yang akan timbul di zaman modern (Marxisme dan Leninisme, misalnya).

Daftar Pustaka

Bertens, Kees, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Yogyakarta, edisi revisi, 1989

Coplestone, Frederick, A History of Philosophy. Vol. 1, Doubleday, New York, 1993

Yarza, Ignatius, History of Ancient Philosophy, Sinag-Tala, Manila, 1994

“Democritus” dalam http://plato.stanford.edu/entries/democritus/, diakses dari Jakarta,

11 Oktober 2008 Pkl. 17.16


[1] http://plato.stanford.edu/entries/democritus/, diakses dari Jakarta, 11 Oktober 2008 Pkl. 17.16

[2] Lih. Bertens, Kees, Sejarah Filsafat Yunani, Kanisius, Yogyakarta, edisi revisi, 1989, hlm. 62

[3] Lih. Coplestone, Frederick, A History of Philosophy. Vol. 1, Doubleday, New York, 1993, hlm. 125

[4] Yarza, Ignatius, History of Ancient Philosophy, Sinag-Tala, Manila, 1994, hlm 55

[5] Kutipan dalam Yarza, Ignatius, History of Ancient Philosophy, Sinag-Tala, Manila, 1994, hlm 55

[6] Kutipan dalam Coplestone, Frederick, A History of Philosophy. Vol. 1, Doubleday, New York, 1993, hlm. 124

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s