Agresi dalam bentuk Bullying di Perguruan Tinggi Sandi Negara Bogor

Posted: February 7, 2010 in Kebudayaan

Pengantar

Dalam rangkaian penerimaan mahasiswa baru, hampir di setiap Perguruan Tinggi mengadakan Kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru yang mengandung kekerasan (bullying). Banyak alasan yang dipakai untuk membenarkan kegiatan ini. Bullying di beberapa tempat masih tetap dilakukan sebagai sarana penggemblengan mental mahasiswa baru sebelum memasuki dunia akademis, yang sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan dunia kekerasan sebagaimana dikondisikan dalam orientasi tersebut. Para senior beranggapan bahwa kegiatan tersebut dapat memberikan akibat positif bagi para junior, yakni melatih mental mereka. Menurut senior, para junior juga dapat membangun persaudaraan yang solid di antara rekan seangkatan lewat kegiatan ini. Di satu pihak, pelaksanaan kegiatan Orientasi dibuat demi kepentingan positif (menurut Senior) para Junior, tetapi di lain pihak memberi akibat yang buruk baik bagi senior, maupun junior. Dampak buruk bagi senior adalah efek negatif dalam perkembangan pribadi mereka sendiri. Tetapi yang paling merasakan akibat buruknya secara langsung adalah junior, baik fisik maupun mental.

Kegiatan Orientasi Mahasiswa yang berbau kekerasan tersebut saya kategorikan menjadi salah satu bentuk tindakan agresi. Saya mengambil contoh dari sebuah Perguruan Tinggi di Bogor sebagai kasus yang akan dianalisa secara ringkas dalam makalah ini. Saya mencoba untuk mencari penyebab dari tindakan agresi yang terjadi dalam Kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru. Kemudian saya menawarkan beberapa alternatif solusi yang bisa dipakai untuk mengurangi tindakan agresi.

Ilustrasi Kasus[1]

Wisnu adalah seorang Mahasiwa baru tahun 2009 di Sekolah Tinggi Sandi Negara, Ciseeng, Bogor. Di Sekolah Tinggi tersebut juga diselenggarakan Orientasi Mahasiswa Baru selama tiga hari. Setiap mahasiswa baru memiliki kewajiban untuk membawa dua jenis barang: barang tugas grup dan barang pribadi. Untuk, grup Wisnu diwajibkan membawa kornet dan setrika. Sedangkan buat keperluan pribadi, dia mencangking sepuluh eksemplar koran, dua potong kaus merah polos, tiga celana panjang hitam, dan tiga kemeja putih lengan panjang. Kusmanto sang ayah terakhir kali bertemu Wisnu saat mengantar Wisnu ke kampus sebelum keberangkatannya untuk mengikuti orientasi. Sampai akhirnya mendengar kabar tentang kematian Wisnu, sang anak.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bogor Ajun Komisaris M. Santoso, Wisnu tewas akibat penganiayaan. Pukulan gulungan koran padat berlilit lakban menyerupai pentungan polisi bertubi-tubi menghajar tubuh Wisnu. Insiden tragis ini bermula pada pukul 12.00 siang pada hari Kamis 24 September 2009. Ketika itu, Wisnu hendak masuk barisan, tapi tiba-tiba topinya jatuh tertiup angin. Ia segera memungut kembali topi itu. Saat mengambil topi, seorang anggota panitia, mahasiswa tingkat tiga, menubruk Wisnu. Adegan ini terekam dalam CCTV. Senior tersebut melakukan tindakan ini dengan sengaja. Ketika Wisnu jatuh, dia memukuli Wisnu dengan pentungan. Kemudian, setidaknya empat kawan senior itu ikut nimbrung memukuli Wisnu. Sehari setelah dianiaya, Wisnu mengeluh sakit meski tetap mengikuti orientasi. Pada hari Sabtu, Wisnu ikut kegiatan hingga selesai makan siang kesehatan Wisnu terus-menurun. Minggu pukul tiga Wisnu dilarikan ke Rumah Sakit, namun beberapa saat kemudian meninggal dunia.

Itulah kisah menyedihkan yang dialami Alm. Wisnu dan keluarganya. Berniat untuk menimba ilmu demi masa depan malahan berujung kematian yang sangat tragis. Perilaku agresi semacam ini sebetulnya dijumpai di banyak perguruan tinggi ketika mengadakan orientasi mahasiswa baru. Apakah akar dari semua tindakan agresi yang dilakukan oleh para mahasiswa senior terhadap adik kelas mereka? Bagaimana bisa muncul perilaku agresi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut coba dijawab dalam makalah ini untuk kemudian dicarikan pemecahannya.

Mengenal Perilaku Agresi

1. Agresi sebagai Perilaku Bawaan (nature)

Para ilmuan melakukan debat yang panjang tentang asal-usul agresi.  Freud (1930) berasumsi bahwa kita memiliki insting untuk melakukan agresi. Dari teorinya tentang “insting kematian” (thanatos), dia berpendapat bahwa agresi mungkin diarahkan ke dalam, menghancurkan diri sendiri, atau di arahkan ke luar, yakni terhadap orang lain. Meskipun Freud mengakui bahwa agresi tersebut dapat dikontrol, dia menegaskan bahwa agresi tidak dapat dihilangkan karena agresi itu alamiah bagi manusia.[2]

Meskipun sebagian besar ilmuan hanya sebentar menerima gagasan bahwa agresi berasal dari insting bawaan manusia, kebanyakan menyetujui bahwa agresi lahir atau muncul dari naluri yang diwariskan turun-temurun sejak dari makhluk hidup sebelum-sebelumnya yang menjadi asal-usul manusia (evolutif). Para ahli biologi evolutioner telah mengembangkan kawasan sosiobiologi, ditarik dari perilaku dasar biologis. Para ahli sosiobiologi berpendapat bahwa banyak aspek tindakan sosial, termasuk agresi, dipahami dalam konteks evolusi. Karena agresi menolong pejantan dalam mendapatkan pasangan yang menarik dan membantu betina dalam melindungi masa mudanya, prinsip-prinsip seleksi alam seharusnya berlangsung selama membentuk sikap agresi tertentu.[3]

Pendapat lain mengenai agresi adalah dari ilmu ethologi, salah satu cabang ilmu biologi yang menaruh perhatian pada insting atau pola perilaku yang biasa dilakukan semua spesies hewan dalam keadaan normal atau alamiah. Ethologi meneliti perilaku ikan, burung, dan hewan-hewan lain dan mencoba untuk mengidentifikasi persamaan-persamaan dan penyebab-penyebab tingkah laku mereka tersebut. Para ahli ethologi berpendapat bahwa tingkah laku hewan merupakan bawaan sejak lahir atau instingtual sifatnya.[4] Seperti teori psikoanalisis (Freud), ethologi berpendapat bahwa ekspresi pola tindakan tertentu tergantung pada akumulasi energi. Tetapi, ethologi juga berpendapat bahwa pelepasan energi harus dipicu oleh faktor dari luar yang disebut releaser. Secara spesifik ethologi berpendapat bahwa tanda-tanda dari lingkungan tertentu diperlukan sebelum organisme mengekspresikan perilaku agresifnya.

Perilaku agresi binatang memiliki tujuan melestarikan spesiesnya (Lorenz, 1966). Perilaku agresif di sini bernilai untuk mempertahankan hidup. Lorenz meyakini bahwa suatu organisme tidak lebih agresif terhadap sesama spesiesnya dari pada terhadap spesies lainnya. Tujuan utama dari perilaku agresi tersebut adalah untuk menjaga anggota spesiesnya agar tidak terpisah-pisah dan memberikan teritori untuk bertahan hidup. Sedangkan, agresi sesama spesies berpengaruh pada perkawinan dan seleksi seksual. Agresi menjamin bahwa binatang yang terkuat dan terbaik akan dapat melanjutkan keturunan. Sedangkan, persoalannya pada manusia adalah manusia tidak ganas, omnivora, tidak memiliki senjata dan pertahanan diri yang alamiah seperti hewan. Itulah mengapa manusia tidak membunuh satu sama lain secara alamiah.[5]

Sikap agresi pada manusia lebih kompleks dan berbeda bentuk dari agresi binatang, dan perilaku agresi pada manusia terjadi dalam konteks sosial yang amat berbeda yang diperintah oleh norma-norma sosial yang berbeda. Jadi, meskipun perspektif sosiobiologis mungkin memberikan pengertian tentang dasar sikap agresi manusia, itu bukanlah teori yang cukup pada dirinya sendiri untuk menjelaskan perilaku agresi manusia. Hal ini tidak ingin mengatakan bahwa aspek biologis hanya berperan sedikit dalam perilaku agresi pada manusia. Agresi fisik, perlu kita ketahui, dipengaruhi oleh hormon testosteron pada laki-laki, dan mungkin juga oleh faktor biokimiawi lainnya. Kecenderungan kekerasan individu juga memiliki pola aktifitas otak yang berbeda.

Jadi, Selain karena faktor genetis dan pengaruh reaksi biokimiawi dalam tubuh, perilaku agresi juga besar dipengaruhi oleh faktor sosial.

2. Faktor sosial sebagai faktor pembentuk Agresi

Perilaku agresi pada manusia tidak diatur oleh insting. Bahkan, teori sosial mengatakan bahwa perilaku agresi dipelajari dari orang lain. Seorang ahli Psikologi, J.P. Scott (1958) menyimpulkan bahwa semua penelitian menemukan fakta bahwa tidak ada fakta psikologis mengenai suatu kebutuhan bawah sadar atau spontanitas yang mengarah pada perkelahian. Pendorong perilaku agresi datang dari adanya kekuatan fisik. Tidak ada dasar genetis dan evolutif dalam membentuk perilaku kekerasan. Perilaku agresi bagi para ilmuan sosial adalah perilaku yang hanya terbentuk lewat pembelajaran. Lantas bentuk pembelajaran macam apa yang membentuk perilaku agresi tersebut? Ada dua metode yakni: pembelajaran instrumental, dan pembelajaran observational (pengamatan).

Menurut prinsip pembelajaran instrumental, perilaku apapun yang diperkuat (reinforced) atau dihargai  (rewarded) pasti akan diulangi kembali kemudian. Selanjutnya, jika agresi sealu diikuti dengan pengharagaan, seseorang pasti akan bertindak lebih agresif lagi di lain kesempatan. Misalnya, penerimaan sosial atau kenaikan status dapat memperkuat perilaku agresif. Bagi orang yang sedang dalam keadaan terhasut, situasi korban yang sedang menderita bisa menjadi bentuk penguatan. Sedangkan, pembelajaran observational atau sosial modeling (social modeling) manjadi sarana untuk mempelajari perilaku agresi dengan melihat atau mengamati perilaku orang lain (models).

3. Apa itu perilaku Agresi ?

Agresi adalah tindakan fisik atau perkataan yang sengaja melukai seseorang, termasuk menempeleng, sengaja menghina, bahkan suka menggosip, kecuali kecelakan (tidak disengaja). Pengertian tersebut meliputi pemisahan dua tipe agresi. Binatang memperlihatkan agresi sosial (social aggression), ditandai dengan amukan, dan agresi hening (silent aggression), seperti ketika predator yang akan menerkam mangsanya. Agresi sosial dan hening melibatkan wilayah otak yang terpisah. Dalam diri manusia, psikolog menandai dua tipe, agresi “kejam” (hostile) dan “instrumental” (instrumental). Agresi bermusuhan bersemi dari kemarahan, tujuannya adalah untuk melukai. Agresi instrumental bertujuan melukai hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lain.[6]

Pembedaan dua macam agresi tersebut kadang-kadang sulit untuk dipahami. Apa yang awalnya “dingin”, bisa jadi tindakan yang disengaja menimbulkan permusuhan. Sedangkan, psikolog sosial menemukan pembedaan yang berguna. Sebagian besar pembunuh, misalnya, sangat kejam. Mereka impulsif, meledak-ledak emosinya –yang menjelaskan mengapa data dari 110 negara menunjukkan bahwa memaksakan peraturan hukuman mati tidak mengurangi tindakan pembunuhan. Tapi, beberapa pembunuh termasuk dalam perilaku agresif yang sifatnya instrumental. Pembunuhan seringkali bukan karena tujuan membunuh itu sendiri, melainkan karena alasan tertentu seperti politik, ekonomi, atau sosial.[7]

4. Bagaimana perilaku agresif dipelajari?

Mekanisme pokok yang menentukan agresivitas seseorang adalah pembelajaran di masa lalu. Seorang anak kecil yang baru saja lahir menunjukkan perasaannya yang agresif dengan sangat impulsif. Artinya, seorang anak kecil bertindak agresif tanpa ada kesadaran bahwa dia sedang berperilaku agresif. Perilaku agresif pada bayi berada di luar kontrol dirinya sendiri. Sedangkan pada orang dewasa dorongan kemarahan dan reaksi agresifnya berada di bawah kontrol. Perilaku agresif kita pelajari, bukan datang dan tinggal di dalam diri kita secara alamiah (bawaan sejak lahir). Kebiasaan berperilaku agresif melawan tipe orang-orang tertentu adalah hasil pembelajaran dalam hidup kita sejak dari masa kecil. Sejak masa kecil kita memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu dan pengaruh dari orang tua mengenai perilaku agresif. Kebiasaaan ini kemudian menentukan tindakan atau perilaku agresif kita di kemudian hari.[8]

Imitasi. Satu bentuk mekanisme yang penting yang membentuk perilaku anak-anak adalah imitasi. Semua orang –khususnya anak-anak– memiliki kecenderungan yang kuat untuk meniru orang lain. Seorang anak melihat orang makan dengan garpu dan kemudian mencoba untuk melakukan hal yang sama. Imitasi ini berlaku hampir ke semua jenis perilaku, termasuk agresi. Seorang anak mengamati orang lain, baik yang agresif atau yang mengendalikan agresi mereka, dan kemudian mencontoh mereka. Tindakan agresif anak tersebut dibentuk dan ditentukan oleh apa yang dia lihat pada orang lain.

Reinforcement/ penguatan. Mekanisme kedua di mana agresi dipelajari adalah penguatan. Ketika tindakan kita diberi hadiah atau dipuji, kita bisa jadi akan mengulanginya kembali. Sedangkan, ketika dihukum, kita tidak mau mengulanginya. Orang tua biasanya menjadi model yang pas bagi anak-anak, terutama di tahun-tahun awal mereka. Artinya, anak-anak lebih banyak meniru perilaku orang tuanya dari pada yang lain. Ketika orang tua menjadi sumber utama untuk imitasi dan penguatan, perilaku agresif anak di kemudian hari tergantung seberapa besar orang tua berperan bagi anak-anak mereka dan bagaimana orang tua bersikap di hadapan anak-anak.

Memahami Lebih Dekat Kasus Wisnu (Analisis Kasus)

Perilaku bullying para senior terhadap para junior seringkali dilakukan tanpa alasan yang jelas atau tidak masuk akal. Seperti dalam kasus Wisnu, menurut laporan TEMPO, Wisnu dihajar hanya karena dia keluar dari barisan untuk mengambil topinya yang jatuh. Lantas, apa yang menjadi pemicu munculnya perilaku agresi di kalangan mahasiswa tersebut? Apakah senior yang memukuli Wisnu tersebut sedang merasa frustasi atau marah sehingga mudah terpicu untuk memukuli Wisnu?

Menurut teori Dollard (1993), agresi selalu berasal dari frustasi dan frustasi selalu menghasilkan agresi. Namun, sifat mutlak (selalu) dalam pada ini tidak dibenarkan. Frustrasi memang biasanya membangkitkan kemarahan, namun terdapat situasi di mana kemarahan tidak terjadi, dan kemarahan yang meningkat selalu mengarah pada tingkah laku yang lebih agresif. Serangan dan frustrasi cenderung membuat orang merasa marah. Namun, orang yang marah tidak selalu bertingkahlaku agresif. Dari survey diketahui bahwa hanya 10 % kejadian agresi fisik yang nyata bila orang merasa marah. 49% kejadian agresi terungkap. 60% melakukan atau terlibat dalam berbagai jenis kegiatan menenangkan diri yang non agresif. (Averill, 1983).

Mencoba mengamati bagaimana munculnya agresi dalam diri para senior yang memukuli Wisnu memang tidak mudah karena selain kurangnya informasi soal latar belakang pengalaman terakhir yang mereka alami, kita tidak mengetahui kondisi psikologis mereka saat itu. Latar belakang pengalaman terakhir dalam hal ini berfungsi untuk melihat apakah ada pengalaman atau peristiwa yang membuat mereka frustasi. Yang dapat diamati atau dianalisa adalah bagaimana perilaku agresi itu muncul dan dikembangkan dalam dunia akademik, seperti dalam Perguruan Tinggi.

Dalam teori psikologi sosial, ada yang disebut reinforcement/ penguatan yang dapat memicu dan merawat perilaku agresi seseorang. Dalam kasus Wisnu, perilaku agresi yang dilakukan oleh senior terhadap junior merupakan bagian dari cerita panjang kisah bullying dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tradisi menjadi alasan yang mendasari terjadinya agresi. Kegiatan orientasi yang berbau kekerasan diturunkan terus-menerus dari kakak kelas mereka. Usaha mempertahankan status dengan meneruskan tradisi menjadi pendorong atau penguat (reinforcement) untuk melakukan tindakan agresi. Ketika para panitia mampu meneruskan tradisi, mereka akan menilai diri mereka sukses dalam menjalankan tugas mereka.

Alasan kedua adalah pengalaman masa lalu para senior yang mendapat perlakuan sama pada waktu mereka orientasi. Sikap agresi mereka terhadap junior sekarang menjadi salah satu bentuk pembalasan (retaliation). Dulu sewaktu masih menjadi junior, para senior yang sekarang tidak mampu melepaskan rasa marah mereka secara langsung kepada senior mereka waktu itu karena posisi mereka yang lemah. Sekarang, kemudian menjadi saat  untuk membalas sakit hati atau balas dendam atas pengalaman yang sama di masa lalu. Posisi mereka lebih aman; junior tidak memiliki kekuatan yang bisa membalas perbuatan mereka. Kesempatan mereka ketika menjadi senior dalam acara orientasi adalah melepaskan segala kejengkelan yang dulu pernah dialami. Freud mengatakan bahwa setiap manusia memiliki semacam wadah untuk menyimpan segala rasa marah, jengkel, dan cemas yang suatu saat nanti akan dilepaskan ketika berada dalam kondisi yang aman, dan tidak ada kekuatan yang lebih besar.

Upaya yang Dapat Dilakukan (Tanggapan dan Relevansi)

1. Mengurangi perilaku agresif

Hukuman dan Pembalasan. Pembalasan (Retaliation) yang dimaksud dalam hal ini adalah tindakan atau usaha yang diarahkan kepada orang yang melakukan agresi, bisa jadi tindakan pembalasan itu juga agresif. Tampaknya memang cukup efektif memakai cara ini dalam mengurangi perilaku agresi. Kita dapat melihatnya pada anak-anak. Anak-anak akan berusaha menekan perilaku agresif mereka karena ada ketakutan akan mendapat hukuman (yang menyakitkan atau tidak mengenakkan) dari orang tua atau guru atau saudara mereka setelah melakukan tindakan agresi. Tetapi hukuman atau pembalasan yang diberikan kepada anak-anak yang melakukan agresi tidak selalu efektif untuk mengurangi perilaku agresif. Bahkan, anak-anak yang terlalu sering mendapatkan hukuman justru menjadi semakin agresif. Dalam beberapa kasus, hukuman yang diberikan kepada anak-anak yang agresif tidak mengurangi perilaku agresif mereka. Orang yang mendapat serangan memiliki kecenderungan untuk membalas kembali.[9]

Akibat dari hukuman dan pembalasan tidak sesederhana yang dibayangkan. Terkadang, orang menekan perilaku agresi mereka karena tidak mau rasa sakit atas hukuman yang akan mereka terima kemudian karena melakukan agresi. Tetapi di samping itu, hukuman yang diberikan disalahartikan sebagai serangan balik sehingga justru mendorong untuk secara langsung maupun tidak langsung melakukan agresi.

Dalam perilaku agresi di kalangan mahasiswa hukuman perlu diberikan karena demi memberikan efek jera bagi mereka yang melakukan bullying.  Sanksi tegas, jika perlu sampai drop out adalah cara yang bisa dipakai untuk membuat para pelaku bullying merasa takut untuk melakukannya. Memang, efektifitas dari model penanganan semacam ini tidak akan terjamin tanpa usaha-usaha lain, seperti pengawasan ketat dari para dosen pembimbing dan ketegasan dari pihak Perguruan Tinggi dalam menangani kasus ini. Jika tidak ada sistem yang memaksa untuk mengurangi agresi di kalangan mahasiswa, perilaku bullying tidak akan pernah bisa diselesaikan. Di samping penanganan dari luar (faktor eksternal), penting untuk dilakukan penanganan secara internal, yakni menyikapi secara individual.

Mengurangi Frustasi dan Serangan. Jika frustasi dan serangan dari orang lain merupakan sumber utama dari kemarahan, strategi yang efektif adalah mengurangi potensi keduanya. Dalam masyarakat, frustasi dan kekerasan muncul karena kondisi ekonomi. Kekurangan kebutuhan pokok, tempat tinggal, dan pakaian adalah faktor yang memicu frustasi dan kemudian berujung pada kekerasan. Maka dari itu, upaya untuk mengurangi frustasi adalah dengan memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi.[10] Kemudian, kebutuhan akan rasa aman juga harus dipenuhi setelah kebutuhan pokok di atas terpenuhi. Namun, upaya menyejahterakan masyarakat tersebut di atas, tentu tidak sepenuhnya mampu mengurangi perilaku agresi, terutama perilaku agresi individu. Sebagai makhluk individu, manusia memiliki keinginan yang tidak selalu bisa dipenuhi, baik oleh negara maupun dirinya sendiri. Maka dari itu upaya lain untuk mengurangi agresi tetap diperlukan.

Dalam konteks dunia akademik, usaha untuk mengurangi frustasi bisa dilakukan dengan mengurangi beban mahasiswa dengan tugas-tugas yang terlalu banyak dan tidak realistis. Maksud saya, mahasiswa diberi kebebasan untuk mengembangkan ilmunya dengan pendampingan yang mendukung pengembangan bakat dan minat mereka, bukan memaksakan beban materi yang sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa. Lebih baik memberikan satu hal yang penting bagi mahasiswa dan meminta mereka secara sungguh-sungguh mendalami. Aplikasinya, bisa berupa membuat sebuah penelitian kecil dengan mendasarkan pada teori yang sudah diajarkan dikelas. Penilitian kecil dapat berupa membuat tulisan menanggapi persoalan yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Selain demi kamajuan mahasiswa, bisa juga menyumbangkan sesuatu bagi masyarakat. Selain itu, mahasiswa tidak terkena beban stres, meski tetap tidak mengurangi kesibukannya.

2. Memindahkan perilaku agresif

Seringkali kita dibuat jengkel atau frustasi oleh orang lain yang lebih kuat atau terlalu lemah sehingga membuat kita takut atau atau tidak mungkin untuk melakukan pembalasan terhadap orang tersebut. Dalam situasi seperti itu kita dapat mengekspresikan agresi kita dengan cara lain, yang disebut “memindahkan agresi” (displaced aggression). Sebagai contoh adalah anak-anak. Anak-anak seringkali mengungkapkan kejengkelan terhadap orang tua mereka dengan memukul benda atau mainan yang dimilikinya. Apapun caranya, orang mengekspresikan rasa marahnya terhadap target yang lebih aman dari sumber yang membangkitkan rasa frustrasi atau marah. Pada umumnya, pemindahan agresi lebih diarahkan terhadap target yang dirasakan lebih lemah dan tidak berbahaya.

Hal ini bisa dibuat dengan cara mengadakan pertandingan olah raga antar fakultas atau antar kampus. Cara ini sudah dibuat di beberapa PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Keuskupan Jakarta).[11] Sarana olah raga bisa menjadi sarana untuk memindahkan rasa marah atau frustasi. Segala beban pikiran, frustrasi, dan rasa marah yang tersimpan dalam diri. Cara ini juga bisa menjadi bagian dari Katarsis.

3. Katarsis

Ringkasnya, katarsis melepaskan rasa marah yang tersimpan dalam diri kita. Bagi Freud, kita selalu memiliki tempat untuk menyimpan energi agresif kita secara instingtual. Katarsis dalam bentuk agresi secara langsung dapat mengurangi “agresi” ketika orang secara langsung mengungkapkan kemarahannya melawan orang lain yang telah membuatnya frustasi atau marah. Tetapi, melakukan pelepasan rasa marah secara langsung tersebut sangat riskan karena memiliki banyak efek yang tak terduga. Ada kemungkinan agresi menjadi tidak terkendali, atau tidak dapat dicegah. Risiko lain melepaskan perilaku yang sama (agresi) tampaknya lebih meningkatkan agresi dari pada menguranginya. Freud menawarkan pendapat lewat hipotesis bahwa orang dapat mengurangi perilakunya yang agresif dengan fantasi agresi, misalnya melamun tentang kekerasan, lelucon kejam, atau menulis cerita.

Daftar Pustaka

Kay Deaux, Francis C. Dane, Lawrence S. Wrightsman, Social Psichology in the ‘90s, California: Pasific grove, 1993

Myers, David G., Social Psychology, New York: McGraw-Hill College, 1999

Shelley E. Taylor, Letitia Anne Peplau, David O. Sears, Social Psychology, 8th Edition, New   Jersey: Prentice Hall, 2006


[1] TEMPO, 11 Oktober 2009

[2] Lih. Myers, David G., 1999, Social Psychology, New York: McGraw-Hill College, hlm. 385

[3] Lih. Shelley E. Taylor, Letitia Anne Peplau, David O. Sears, 2006, Social Psychology, 8th Edition, New Jersey: Prentice Hall, hlm. 406

[4] Lih. Kay Deaux, Francis C. Dane, Lawrence S. Wrightsman, 1993, Social Psichology in the ‘90s, California: Pasific grove, hlm. 256

[5] Ibid.

[6] Lih. Myers, David G., hlm. 384

[7] Ibid.

[8] Lih. Shelley E. Taylor et all, hlm. 439-440

[9] Lih. Shelley E. Taylor et all, hlm. 444-445

[10] Ibid., hlm. 445

[11] PMKAJ merupakan organisasi mahasiswa Katolik yang terdiri dari beberapa Perguruan Tinggi di wilayah tertentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s