Fundamentalisme dalam Pembaruan Karismatik Katolik

Posted: October 1, 2008 in Teologi

Fundamentalisme dalam Pembaruan Karismatik Katolik

Jika membahas perkembangan Spiritualitas Gereja Katolik saat ini, kita tidak bisa lepas dari perbincangan mengenai fenomena Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik. Hampir di semua Gereja Katolik (paroki) di banyak tempat memiliki kelompok Persekutuan Doa Karismatik ini. Yang menarik untuk dijadikan bahan pembicaraan adalah bahwa tidak sedikit pula umat yang mengikuti kegiatan ini di Paroki mereka masing-masing. Fenomena munculnya Gerakan Karismatik, di satu sisi menampakkan betapa luar biasa gairah umat dalam hal peribadatan atau liturgi. Di sisi lain, munculnya Gerakan Karismatik di dalam Gereja Katolik, menimbulkan berbagai macam pertanyaan. Pertanyaan dimulai dari soal lagu-lagu yang digunakan hingga soal baptisan Roh Kudus.

Konsili Vatikan II sendiri digambarkan sebagai sebuah Pentakosta Baru dalam Gereja, sebuah pencurahan Roh Kudus supaya Gereja membarui hidup dan tindakannya dengan maksud untuk menjadi lebih baik dan kredibel dalam memberikan kesaksian Injil di dunia modern. Dua hal yang menjiwai pembaruan ini adalah Sabda Tuhan dan Roh Kudus. Ajaran Gereja yang begitu ketat dan kaku kurang menunjukkan daya tarik secara afektif bagi umat. Konsili Vatikan II datang membawa angin segar bagi Gereja Katolik lewat pembaruan-pembaruannya. Konsili membangun karisma serta menanamkan gairah dan kegembiraan bagi Gereja. Dalam hal ini, Konsili membuat Gereja kelihatan muda kembali dan relevan sepanjang zaman, dan mendesak untuk mewartakan pesannya dengan penuh kegembiraan.

Makalah sederhana ini berusaha memaparkan pendapat Paul Puthanangady mengenai Gerakan Kharisimatik dan Fundamentalisme dalam tulisanya yang berjudul The Spread of Charismatic Movement Today and the Revival of Fundamentalism. Paul memang kelihatan lebih membeberkan efek negatif dari Gerakan Karismatik dalam hubungannya dengan fundamentalisme. Lantas, Apakah Gerakan Karismatik itu patut dikhawatirkan bahwa akan mengancam identitas Katholik? Kekhawatiran boleh saja ada, namun tidak perlu berlebihan. Gerakan Karismatik pantas juga mendapat tempat di Gereja Katolik. Gerakan Karismatik merupakan salah satu bentuk ungkapan atau ekspresi iman umat yang dapat membantu mereka menemukan Tuhan.

Sejarah Munculnya Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik

Gerakan Karismatik sebetulnya merupakan fenomena bagi Gereja secara keseluruhan, baik Gereja Reformasi maupun Gereja Katolik. Di sini, hanya akan diuraikan mengenai sejarah munculnya Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik. Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik menjadi satu bagian dari proses perkembangan Gerakan petakostalisme.

Yang diyakini sebagai petunjuk lahirnya Gerakan (pembaruan) Karismatik Katolik adalah peristiwa “Duquense Weekend” (akhir pekan di Duquense). Namun demikian, peristiwa di akhir pekan tersebut tidak terjadi begitu saja. Ada proses persiapan sebelumnya yang intensif sejak pertengahan tahun 1966. Ada dua unsur yang terlibat dalam proses tersebut. Pertama, proses lahirnya Pembaruan Karismatik Katolik tidak terlepas dari peran orang-orang dari luar Gereja Katolik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kedua, Pembaruan Karismatik Katolik lahir karena orang-orang pertama yang mengalaminya memiliki kerinduan yang begitu dalam untuk menerima pengalaman pentakosta baru[1].

Berawal dari sebuah buku The Cross and The Switchblade yang dibaca oleh beberapa dosen Universitas Duquense. Buku itu berisi tentang pengalaman-pengalaman seorang pendeta pentakostal, David Wilkerson, yang melayani para penjahat, anggota gang, pengedar dan pengguna narkoba. Kisah-kisah pertobatan terjadi dalam pelayanan yang dilakukan Wilkerson. Bagi mereka buku ini sangat mengesankan dan inspiratif. Para Pembaca (para dosen Universitas Duquense yang waktu itu mengikuti sebuah konvensi tahun 1966) menghendaki bisa mengalami pertobatan seperti itu. Kerinduan yang sama-sama mereka rasakan dibagikan dalam kesempatan doa bersama yang rutin mereka adakan. Juga ada buku lain yang mereka pelajari bersama, They Speak with Other Tongues karangan John Sherrill. Lebih lanjut mereka mengadakan pertemuan persekutuan doa dan pada dua pertemuan terakhir sebelum “Akhir Pekan di Duquense”, mereka mengadakan baptisan Roh Kudus dengan penumpangan tangan yang memberi mereka pengalaman kedamaian batin.

Pada tanggal 16-18 Februari 1967 sekelompok kecil dosen dan mahasiwa-mahasiswi dari Universitas Duquense mengadakan retret akhir pekan. Sebagian besar dari mereka sudah membaca buku The Cross and The Switchblade. Mereka mengadakan retret dengan kerinduan yang kurang lebih sama, yakni mengalami pertobatan melalui pentakosta baru. Yang mereka lakukan adalah hanya berdoa bersama dengan bahan dari empat bab pertama dari Kisah Para Rasul. Dalam suatu kesempatan, ketika mereka berada di kapel, Roh Kudus mencurahkan diri-Nya atas mereka. Masing-masing dari mereka begitu saja berjumpa dengan pribadi Roh Kudus sebagaimana telah dialami orang-orang lain beberapa minggu sebelumnya.

Kejadian di Universitas Duquense itu lalu dikenal sebagai “Duquense Weekend” yang menandai secara formal kelahiran Pembaruan Karismatik Katolik. Sekelompok orang meneruskan pertemuan persekutuan doa mereka untuk melanjutkan kerinduan mereka akan Baptisan Roh Kudus. Yang menarik, dalam pertemuan semacam ini banyak dari mereka yang semula belum mengalami baptisan Roh Kudus akhirnya mengalaminya. Begitulah gerakan ini terus berkembang. Pada akhir pekan sesudah retret itu gerakan pentakostal di kalangan orang katolik sudah merebak di tiga universitas besar: Duquense, Notre Dame, Michigan[2].

Apa itu Gerakan Karismatik?

Gerakan Karismatik merupakan salah satu bagian dari perkembangan pentakostalisme dalam Gereja Kristen. Berdasarkan proses penyebarannya, secara garis besar ada tiga gelombang pentakostalisme, Pentakostalisme Klasik, Gerakan Karismatik, dan Neo-Pentakostalisme[3]. Pentakostalisme bisa disebut dengan gerakan yang ingin sungguh mengusahakan hidup yang kudus dan sempurna melalui keterbukaan total pada Roh Kudus[4]. Maka, bisa dikatakan bahwa ciri utama Gerakan Karismatik adalah pengalaman akan Roh yang diperoleh. Pengalaman ini ditangkap sebagai sebuah pengalaman yang memberi keuntungan bagi kesaksian Kristen yang efektif. Namun, di samping itu, ada beberapa bahaya dalam interpretasinya atas pengalaman akan Roh tersebut. Paul mencoba menganalisanya, tidak hanya secara teoritis, melainkan juga dalam ekspresi/ praktek tertentu yang berpengaruh pada praktek hidup komunitas Kristen.

Pendekatan terhadap Kitab Suci

Dalam Gerakan Karismatik Kitab Suci dipandang sebagai sumber utama spiritualitas. Ini wajar karena Roh dianggap sebagai pengarangnya. Kitab Suci selalu dipakai dalam kesempatan doa bersama kelompok Karismatik . Selama doa bersama, sebagian besar yang mereka lakukan adalah menafsirkan Kitab Suci. Dalam hal ini Karismatik mendasarkan Sabda Tuhan bukan hanya sebagai ajaran/ doktrin, melainkan sumber pengalaman akan Allah, terlebih sebagai sebuah peristiwa perjumpaan dengan Roh Kristus yang bangkit.

Baptis Roh Kudus

Melalui penumpangan tangan, seseorang mengalami kritistus yang bangkit secara personal. Pengalaman baptis Roh Kudus adalah pengalaman pemberdayaan oleh Roh Kudus yang membawa pada hidup devosional yg mendalam, ketertarikan pada doa, Kitab Suci, dan Sakramen, serta mengantar ke kesatuan dengan Allah yang lebih erat. Baptisan Roh Kudus memberi seseorang dimensi emosional yang membuat orang menjadi aktif dalam doa dan aksi nyata. Dengan baptisan Roh Kudus orang merasakan sungguh-sungguh secara personal Allah sendiri.

Karisma

Karisma adalah pemberian dari Roh Kudus yang diberikan kepada seseorang agar membuat Gereja memenuhi misinya di dunia. Dapat terjadi bahwa Roh memberikan Karisma yang baru kepada seseorang untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Beberapa di antaranya, adalah penyembuhan, mengadakan mukjizat, dan berkata-kata dengan pengetahuan. Di sini ada bahaya eksibisionisme (suka pamer) dan mementingkan diri sendiri. Karena struktur lembaga Gereja yang ketat, karisma-karisma tersebut seringkali tidak sepenuhnya bebas digunakan.

Sebagai sebuah Gerakan dalam Gereja, dalam hal ini Gerakan Karismatik, kemungkinan bisa mengalami distorsi dan penyimpangan. Disebutkan oleh Paul beberapa penyimpangan yang mungkin terjadi dari munculnya Gerakan Karismatik.

Separatisme

Karena ekspresi religius yang di luar ”kewajaran”, yang seringkali begitu ditampakkan, secara tidak sadar bisa menjadikan mereka kelompok elite agama yang menjauhkan diri Jemaat Kristen biasa. Itu dapat menjadi Gereja dalam Gereja atau gereja di bawah Gereja.

Pemutlakan karunia-karunia tertentu

Bahaya yang melekat atas karunia yang kita terima dari Tuhan adalah bahwa penggunaannya diatur menurut kehendak bebas kita. Paul ingin menjelaskan di sini lewat dua buah contoh karunia: karunia berkata-kata dan penyembuhan. Meskipun keduanya dapat menjadi manifestasi dari Roh untuk membangun Komunitas Gereja dan untuk pemenuhan misinya, karunia-karunia tersebut bisa sangat eksibisonistik dan magis. Keduanya dapat digunakan tanpa melibatkannya ke dalam kehidupan manusia yang pada dasarnya dipanggil untuk melayani. Paul lebih lanjut menjelaskan soal karunia eksorsisme. Meskipun pembebasan dari Roh Jahat merupakan karunia yang menjadi karakteristik dalam Perjanjian Baru, kadang-kadang kita dapat sangat dangkal dalam memaknai karunia ini, mungkin ketika melihat kejahatan sebagai sesuatu yang semata-mata disebabkan oleh setan dengan melupakan kenyataan bahwa ada banyak faktor, entah sosial maupun budaya yang ikut andil.

Tidak ada perhatian sosial

Pengalaman akan Roh terbatas hanya dalam kesempatan doa. Gerakan Karismatik ini diidentifikasikan sebagai kelompok doa. Jarang ditemukan mereka memberi perhatian pada realitas sosio-ekonomi. Ini mempunyai kesan bahwa Gerakan Karismatik menarik Gereja dari persoalan konkret yang sedang terjadi di dunia dan dari perutusan Gereja yang sesungguhnya. Mereka melulu memikirkan urusan doa atau kebaktian.

Interpretasi Literer atas Kitab Suci

Intepretasi literer yang dimaksudkan di sini adalah mengenai menafsirkan Kitab Suci secara harfiah. Gerakan Karismatik seringkali memaknai Kitab Suci terlalu sempit. Mereka kurang mau realistis bahwa Sabda Tuhan itu tidak dapat “dikurung” dalam sebuah buku. Bagaimana pun Kitab Suci tetap merupakan buku suci, tapi makna yang terkandung di dalamnya lebih luas dari pada Kitab Suci itu sendiri. Kadang-kadang mereka tampaknya lupa bahwa Kitab Suci adalah Sabda yang Roh Kudus sampaikan kepada komunitas beriman (Bgs Israel) dalam konteks budaya dan sosialnya. Dalam Dei Verbum, sebagaimana dikutip Paul, “Kitab Suci perjanjian Lama maupun Baru bagaikan cermin bagi Gereja yang mengembara di dunia, untuk memandang Allah” (DI 7). Maka dari itu, interpretasi literer atas Kitab Suci, mengingat kata-kata dalam Kitab Suci secara langsung dibisikkan oleh Roh Kudus, dapat menyebabkan distorsi dan disorientasi berkenaan dengan Kitab Suci.

Sikap negatif terhadap agama-agama lain

Salah satu karakteristik anggota Gerakan Karismatik adalah sikap negatif mereka terhadap agama lain; menganggap mereka salah total dan berada di luar gerak Roh Kudus.

Fundamentalisme

Sangat sulit untuk mendefinisikan fundamentalisme. Apa yang dapat kita lakukan adalah menggambarkan sedikit ciri-ciri yang telah membuat seseorang dicap sebagai fundamentalis.

a). Penekanan yang kuat atas kebenaran mutlak teks Kitab Suci. Ini membawa seseorang kepada tafsiran yang lebih harfiah atas Kitab Suci karena tujuan membaca Kitab Suci adalah untuk memahami apa yang Tuhan katakan mengenai Diri-Nya dan mengenai keyakinan yang selalu sah; pendekatan ini tidak memperhitungkan kenyataan bahwa Sabda Tuhan dapat menjadi Sabda Gembira dalam konteks komunitas orang yang mendengarkannya dan menafsirkan dalam konteks situasi hidupnya. Kitab Suci dilihat sebagai buku yang berisi seluruh jawaban atas persoalan manusia, tanpa ada kesadaran bahwa Kitab Suci dapat menolong menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut hanya dalam kerjasama dengan manusia

b). Permusuhan keras terhadap Teologi Modern dan metode, hasil, serta implikasi-implikasi tentang studi mengenai kritik Kitab Suci modern. Teologi adalah refleksi atas pengertian iman mengenai relasi antara Tuhan dan manusia dalam sejarahnya, situasi eksistensial. Maka dari itu, teologi tidak dapat membuat rumusan yang mutlak sah sepanjang waktu. Fundamentalis malahan begitu memelihara rumusan iman itu sepanjang zaman. Mereka tidak memperhatikan pengertian manusiawi dan dunia yang terus-menerus berubah. Dengan kata lain, mereka tidak mau menerima pembaruan yang ada atau tidak mau menerima data ilmiah atas “penemuan” baru dari formulasi iman.

c). Sudah pasti bahwa mereka yang tidak sama-sama memakai pandangan religius mereka bukanlah Kristen sejati. Ini menciptakan rasa superioritas dan sikap arogansi religius di kalangan umat beriman, yang dianggap mendapat dukungan dari Tuhan. Tidak ada kemungkinan sikap terbuka terhadap keyakinan orang lain, termasuk agama lain. Satu hal yang dilakukan adalah mengubah orang lain kepada keyakinan mereka di mana mereka meyakini bahwa Tuhan akan memberi jaminan. Tafsiran Kitab Suci dikondisikan dengan ide sebelumnya mengenai superioritas dan kebenaranan mutlak (ineransi) atas bagian dari umat Kristen. Kadang-kadang, ini dapat membawa Kaum fundamentalis berani untuk menganiaya yang lain karena yakin bahwa berhadapan dengan iman tidak ada pilihan lain daripada memaksakan keyakinanannya sendiri atas mereka.

Hubungan Antara Gerakan Karismatik dan Fundamentalis

Kurangnya antusiasme dalam mengaplikasikan Konsili Vatikan II, sangat erat dikaitkan dengan hidupnya kembali fundamentalisme. Gerakan Karismatik telah menguatkan tren fundamentalistik dalam Gereja. Meski banyak dari mereka, kaum fundamentalis (menganjurkan untuk kembali ke masa pra Vatikan II), akan melawan Gerakan Karismatik, ada banyak kemiripan antara keduanya karena tampaknya sama-sama tidak menyukai pembaruan asli Konsili Vatikan II dengan implikasinya bagi munculnya Gereja Baru. Paul mencoba menerangkan kemiripan yang bisa dilihat antara fundamentalisme dan Gerakan Karismatik.

Sikap terhadap Kitab Suci

Pendekatan harfiah terhadap Kitab Suci yang beberapa kelompok Karismatik buat adalah sangat mirip dengan pendekatan konservatif. Posisi mereka didasarkan atas ajaran Gereja sebelum Vatikan II. Dalam menafsirkan Kitab Suci, aturan Gereja diminimalisir, digantikan oleh Roh Kudus yang aktif dalam setiap individu. Konsekuensinya adalah Roh Kudus sering kali diidentifikasikan secara tidak benar dengan perasaan subjektif setiap orang. Dia seolah-olah orang yang semata-mata memberikan kepuasan dan kegembiraan rohani kepada beberapa elite individu. Pada gilirannya mereka dapat menjadi sangat mutlak di dalam mensahkan pengalaman subjektif personal mereka akan Sabda Tuhan.

Pendekatan yang tak masuk akal atas iman

Benar bahwa iman terutama adalah sebuah relasi. Tapi unsur intelektual tidak dapat dikesampingkan, terutama dalam formulasinya, yang merupakan peran magisterium. Dalam pendekatan fundamentalis, subjek dari rumusan ini dapat diturunkan pada orang yang memiliki pengalaman akan Roh. Dia tidak hati-hati menghubungkan pengalamannya dengan kelompok kecil dan dunia di sekitarnya. Dia menjadi norma untuk semua yang lain, mendapatkan otoritas. Barangsiapa yang menggunakan inteleknya, menanyakan posisinya dianggap melawan Roh Kudus. Salah satu sikap Gerakan Karismatik adalah sikap negatif mereka terhadap banyak orang yang melawan mereka. Mereka sepertinya merasa bahwa setiap orang yang mempertanyakan mereka sama dengan mempertanyakan Roh Kudus.

Tafsir fatal tentang eskatologi

Kita tahu bahwa Roh Kudus memainkan peran yang menonjol dalam penciptaan dunia baru dan surga baru. Roh kudus memainkan peran ini dengan bertindak di dalam sejarah manusia, menuntunnya kepada tujuan akhirnya lewat kerjasama dengan manusia. Itu akan menjadi sebuah dunia baru yang akan dihasilkan dari kesatuan antara Roh manusia dan Roh Allah. Fundamentalis sebagaimana Karismatik kadang kala menggambarkan dunia baru ini seperti sesuatu yang muncul dari sebuah chaos. Apa yang umat beriman harus lakukan adalah tinggal dalam doa dan menunggu datangnya peristiwa itu.

Distorsi penafsiran atas kejahatan dan sakit

Diterima begitu saja bahwa sakit dan kejahatan disebabkan oleh Roh Jahat. Ini merupakan hasil tafsiran fundamentalistik mengenai Kitab Suci. Gerakan Karismatik memperlihatkan kepentingan yang besar soal penyembuhan melaui doa dan penampakan Roh Kudus. Meski seharusnya kita tidak pernah menolak bahwa doa dapat menyembuhkan penyakit, tidak boleh dilupakan bahwa pembasmian kejahatan hanya mungkin lewat kerjasama dengan manusia. Dalam hal ini, setiap manusia seharusnya menjalankan pertobatan batin. Perubahan batin adalah tindakan pertama kali Roh Kudus. Jika diabaikan, penyembuhan akan jatuh pada pertunjukkan magis. Di samping itu, menghubungkan semua kejahatan dengan setan adalah melarikan diri dari isu real yang dipertaruhkan, perubahan struktural masyarakat yang penuh dosa. Sikap fundamentalistik terhadap iman dan penebusan dapat mengabaikan aspek ini.

Gereja Menanggapi Gerakan Karismatik

Pembaruan Karismatik dianggap sebagai sebuah jawaban Tuhan. Gerakan Karismatik merupakan pembaruan yang dinanti-nantikan oleh Gereja. Ada dua pengalaman yang mendasari pemahaman tersebut. Pertama, Pembaruan Karismatik Katolik dilihat sebagai jawaban dari Tuhan sendiri atas doa permohonan Paus Yohanes XXIII ketika pada tangal 25 Januari 1959 beliau mengumumkan tentang akan diadakannya Konsili Vatikan II. Doa itu begitu menarik karena persis menyebut tentang adanya pentakosta baru[5].

Kedua, pengalaman pentakostal di kalangan orang awam Katolik itu kemudian juga dipahami sebagai pemenuhan salah satu bagian dari dokumen yang telah dihasilkan oleh Konsili Vatikan II, Lumen Gentium No. 12. Dalam kaitannya dengan itu, Paus Yohanes Paulus II memberikan seperangkat ukuran baik bagi para gembala untuk mendampingi Gerakan Karismatik, maupun bagi mereka yang sudah terlibat di dalamnya untuk memeriksa diri. Kriteria yang perlu dilihat adalah adanya dorongan yang lebih kuat untuk ”doa, kekudusan, kesatuan (communio), dan pewartaan. Yang diharapkan tersebar bukan melulu Gerakan Karismatik itu sendiri, melainkan dorongan yang lebih kuat ke arah hal-hal baik itu sebagai buah nyata yang dihasilkan bagi pembaruan Gereja.

Bagaimana Gereja menanggapi Gerakan Karismatik juga dapat disimak dengan jelas dalam ensiklik DOMINUM ET VIVICANTEM: ”Zaman kita yang sulit sekarang ini secara khusus membutuhkan doa… Sejak beberapa tahun yang lalu terdapat sejumlah orang yang makin hari makin bertambah jumlahnya, baik dalam gerakan-gerakan maupun dalam kelompok-kelompok yang selalu makin berkembang. Mereka memprioritaskan doa dan pembaruan hidup rohani. Hal ini merupakan suatu fakta yang penuh arti dan hiburan, sebab berdasarkan pengalaman ini, doa benar-benar dapat dibangun kembali di tengah-tengah orang-orang beriman” (n. 65)[6].

Tambahan lagi, Paus Yohanes Paulus II, pada Konferensi International Pembaruan Karismatik Katolik, telah berkata kepada para pemimpin yang bertanggung jawab dalam pembaruan: ”Kekuatan dan kesuburuan Pembaruan memang betul memberikan suatu kesaksian mengenai kehadiran kuat kuasa Roh Kudus, yang bekerja dalam Gereja selama tahun-tahun ini sesudah Konsili Vatikan II. Memang benar Roh Kudus telah membimbing Gereja sepanjang segala masa dan membagi-bagikan bermacam-macam karunia di tengah-tengah orang-orang beriman. Berkat Roh Kuduslah Gereja dapat menjaga kekuatan hidup dan semangat muda, dan Pembaruan Karismatik merupakan suatu bukti nyata dari vitalitas Gereja ada zaman sekarang ini, suatu ungkapan kuat dari ’apa yang dikatakan Roh kepada Gereja-Gereja’ (Wahyu 2:7) pada saat kita kini mendekati akhir milenium kedua.”[7]

Tanggapan Kritis atas Gerakan Karismatik

Sebagai anggota Gereja yang setia tentu kita tidak akan ”mengekskomunikasi” (mengisolir) Gerakan Karismatik ini. Kita tidak dapat menuduh mereka sebagai salah satu aliran sesat dalam Gereja kita. Gereja secara resmi melalui Konsili Vatikan II mengakui adanya Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik[8]. Lagipula, mereka bukanlah selilit yang mengancam kesatuan Gereja kita. Di satu pihak, Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik diberi tempat di dalam Gereja sebagai salah satu bentuk penghayatan sekaligus ekspresi iman umat. Pembaruan Karismatik diharapkan membantu umat mengalami Allah secara personal dan menuntun kepada kekudusan, relasi yang makin erat dengan Allah, cinta akan hal-hal rohani, dan kemajuan hidup berkomunitas (communio).

Di lain pihak, ada ketakutan terhadap Gerakan Karismatik yang condong menjadi kelompok fundementalis dalam Gereja Katolik. Maka dari itu, di sini, perlu ditegaskan kembali kekhasan Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik. Gerakan Karismatik dalam Gereja Katolik merupakan bagian dari arus utama dari perkembangan Pentakostalisme. Karena itu bukan berarti Karismatik Katolik berubah menjadi Gerakan Pentakostalisme yang melepaskan identitas kekatolikkannya, melainkan berusaha memperjelasnya. Dalam sesi Doa Penyembuhan, misalnya, hendaknya memakai kuasa Tuhan dengan sikap tenang, sabar, dan teguh dalam iman. Bagi tim yang sedang berdoa, sesi ini bukan menjadi kesempatan untuk beraksi secara dramatis dan bersandiwara; bukan tempatnya juga untuk berteriak secara histeris, bukan pula memamerkan kekuasaannya dalam bentuk apapun. Sikap-sikap tersebut untuk menghindari sikap eksibisonis. Untuk eksorsime dalam skala besar (exorcismus magnus/ solemnis), hanya imam yang berwenang yang dapat melakukannya dengan prosedur yang telah ditetapkan[9].

Karismatik ibarat dua sisi mata uang yang suatu saat diterima sebagai ungkapan atau ekspresi iman umat, di mana dengan itu umat merasa lebih terbantu untuk mengalami Tuhan, di saat tertentu karismatik pantas untuk menjadi perhatian ketika mulai condong menjadi gerakan fundamentalis, yang bisa menjadi pemicu perpecahan umat dalam Gereja.

Daftar Pustaka

Sumber Utama:

Puthanangady, Paul, “The Spread of Charismatic Movement Today and the Revival of Fundamentalism”, Jeevadhara, No. 022, Tahun 1992, hlm. 277-286

Sumber Pelengkap:

Ramadhani, Deshi, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Sebuah Pencarian, Yogyakarta: Kanisius, 2008

Dokumen 109 Uskup Amerika Latin, Pembaruan Karismatik Katolik, diterjemahkan oleh:

Sugiri, L, Jakarta: Lumen 2000-Shekinah, 1987

Dokumen Konsili Vatikan II tentang Terang Bangsa-bangsa (Lumen Gentium), diterjemahkan

oleh: Hardawiryana, R, Jakarta: Dokpen KWI, 1990


[1] Ramadhani, Deshi, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Sebuah Pencarian, Kanisius, Yogyakarta, 2008, hlm. 47

[2] Ramadhani, Deshi, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Sebuah Pencarian, hlm. 59

[3] Lih. Ramadhani, Deshi, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Sebuah Pencarian, hlm. 111

[4] Lih. Ramadhani, Deshi, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Sebuah Pencarian, hlm. 119

[5] Lih. Ramadhani, Deshi, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Sebuah Pencarian, hlm. 60

[6] Dokumen 109 Uskup Amerika Latin, Pembaharuan Karismatik Katolik, diterjemahkan oleh Sugiri, L., Lumen 2000-Shekinah, Jakarta, 1987, hlm. 21

[7] Dokumen 109 Uskup Amerika Latin, Pembaharuan Karismatik Katolik, hlm. 22

[8] Lih. Dokumen Konsili Vatikan II tentang Terang Bangsa-bangsa (Lumen Gentium) No. 12

[9] Dikutip dalam Ramadhani, Deshi, Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Sebuah Pencarian, hlm. 217; Lih. Kitab Hukum Kanonik No. 1172

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s