Sedikit tentang CONDET

Posted: February 7, 2010 in Kebudayaan

1. Konservasi Budaya Betawi di Condet, Mengapa Gagal?

Usaha konservasi budaya di wilayah Condet itu tidak terealisasi sebagaimana diharapkan.  Kawasan cagar budaya itu sekarang toh tumbuh sebagaimana layaknya permukiman biasa. Ada beberapa alasan kegagalan proyek cagar budaya Betawi di Condet.[1] Pertama, Tidak adanya kekuatan hukum Pemda yang mampu menghambat dan menjaga Condet untuk tumbuh menjadi permukiman Betawi yang khas. Pemda bukannya menindak tegas para pengembang, entah itu perumahan atau perkantoran, tetapi mencari keuntungan dari proyek-proyek “liar” tersebut, dan melupakan begitu saja visi awal mengenai proyek konservasi budaya Betawi. Kedua, pengucuran dana untuk rehabilitasi bangunan khas Betawi berjalan lamban. Dalam pada ini, tidak ada kontinuitas antara gubernur sebelumnya, Ali Sadikin, dengan penerusnya Soeprapto, dalam memberikan dana rehabilitasi dan pemeliharaan kepada warga Condet. Hal ini diperparah lagi dengan tidak adanya kebijakan pemerintah provinsi DKI Jakarta mengenai pentingnya mempertahankan situs cagar budaya. Entitas budaya Betawi di Condet lama-kelamaan mulai memudar. Ketiga, arus pertumbuhan jumlah penduduk di daerah Condet, khususnya kelurahan Batuampar, sangat pesat karena derasnya arus pendatang. Keempat, tentangan dari warga masyarakat Condet sendiri. Mereka menuntut SK gubernur itu segera saja dicabut. Masyarakat menilai bahwa aturan-aturan itu malahan merampas kekhasan Condet itu sendiri. Salak dan duku yang sejak dulu menjadi hasil alam Condet, tak lagi tersaji di kios-kios buah. Jumlah petaninya tak lagi signifikan, seiring makin sempitnya lahan. Warga tidak bisa secara optimal memanfaatkan tanah milik mereka karena berbenturan dengan aturan-aturan yang berkaitan dengan penetapan kawasan itu sebagai kawasan cagar budaya. Ketidakjelasan konsep dan lemahnya pengawasan menyebabkan proyek konservasi budaya di Condet gagal.

Penetapan Condet sebagai kawasan cagar budaya sebenarnya tidak salah, namun kurang tepat sasaran dalam pelaksanaannya. Dalam proyek itu ada maksud yang luhur, yakni untuk melestarikan kebudayaan Betawi. Tentu kebijakan itu harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk yang terjadi. Peraturan tentu tidak dibuat begitu saja, asal jadi, tanpa memperhitungkan akibat-akibat yang nanti ditimbulkan dari peraturan itu. Pada kenyataannya, proyek tersebut tidak dibarengi dengan pengaturan tata kota dan pengelolaan pertambahan jumlah penduduk yang merupakan problem utama di Kota Jakarta. Padahal, Pemda harus memikirkan pula membangun pemukiman penduduk di tempat lain untuk mengantisipasi pertumbuhan penduduk di Condet. Kurangnya perencanaan menghadapi pertumbuhan penduduk dan pengelolaan tata kota membuat kawasan Condet menjadi penuh sesak oleh para pendatang. Kiranya yang kini perlu ditinjau ulang adalah aturan tentang “pelarangan untuk mendirikan bangunan yang melebihi ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) sebesar 20 %”[2]. Peraturan itu sudah tidak mungkin diberlakukan lagi karena penduduk sudah memadati kawasan yang dijadikan cagar budaya itu.

Usulan untuk Pemprov DKI Jakarta menjadikan Condet sebagai cagar sejarah Betawi bisa dipertimbangkan untuk direalisasikan. Menjadikan Condet sebagai cagar sejarah, menurut Ridwan Saidi, punya dasar kuat. Hal ini berdasar pada adanya temuan arkeologis pada situs Condet mengindikasi hunian purba, sedikitnya pada periode 3000 tahun SM. Toponim di Condet (Ci Ondet) seperti Batualam, Batuampar, Balekambang, Pangeran, Dermaga, mencerminkan kehidupan masyarakat dan kebudayaan masa lampau. Benda-benda itu banyak terdapat di tepian sungai Ciliwung, di daerah Condet, dan Kalibata, Pejaten, Jakarta Selatan. Benda-benda ini diduga berasal kira-kira 1000 – 1500 SM.[3]

2. Nasionalisme adalah Proyek Bersama yang Tidak Pernah Selesai[4]

Nasionalisme, menurut Anderson, bukan sesuatu yang diwariskan dari masa lalu, tetapi lebih merupakan “proyek bersama” untuk saat ini dan masa depan. Proyek ini meminta pengorbanan diri, bukan mengorbankan orang lain. Nasionalisme muncul ketika, dalam sebuah wilayah fisik tertentu, warga merasa bahwa mereka berbagi nasib bersama, sebuah masa depan bersama, atau mereka merasa diikat oleh persaudaraan horisontal yang dalam. Hal ini jelas terdapat dalam sebuah organisasi awal negara kita yang terdiri dari Jong Java, Indonesia Muda, Jong Minahasa dll. Di sana, bisa dilihat orientasi mereka yang adalah untuk masa depan. Jika nasionalisme adalah proyek bersama untuk saat ini dan yang akan datang, akibatnya pemenuhannya tidak pernah selesai. Nasionalisme harus diperjuangkan oleh setiap generasi. Keberlangsungan sebuah bangsa pada dasarnya adalah sebuah pertanyaan terbuka, dan semacam pertaruhan.

Taruhannya adalah bahwa ide ‘the future of Indonesia’ akan cukup berakar dalam roh warga negara yang sah. Taruhan itu bisa dimenangkan sejauh bangsa Indonesia, sebagaimana bangsa lain, besar hati dan cukup berwawasan luas untuk menerima keanekaragaman yang nyata dan kompleksitas masyarakat. Dunia modern menunjukkan kepada kita cukup contoh bangsa yang hancur karena banyak sekali warga negaranya yang berhati kecil dan berwawasan kerdil—untuk tidak mengatakan ada hasrat luar biasa akan dominasi terhadap sesamanya.

Persoalannya hingga kini, banyak orang Indonesia yang masih cenderung berpikir tentang Indonesia sebagai sebuah “warisan”, bukan sebagai tantangan, maupun “proyek bersama”.  Seringkali pemikiran demikian ini menimbulkan perselisihan pahit di antara mereka yang merasa memiliki hak-hak terhadap “warisan” tersebut, bahkan mengarah ke kekerasan hebat. Masyarakat yang berpikiran bahwa Indonesia merupakan sebuah “warisan” untuk dilestarikan apapaun bayarannya mungkin berujung pada pencideraan kehidupan penduduk.

Ini dapat dicontohkan pada keadaan dua daerah di Indonesia yaitu Aceh dan Papua yang membuat abstrak proyek bersama ini. Dua daerah ini senantiasa menyatakan ingin merdeka. Ini disebabkan oleh anggapan ketidakadilan yang diterima mereka dari pemerintah Orde Baru (Orde Kropos). Sikap dasar yang sangat buruk dalam pemerintahan Orde Kropos adalah tidak mengakui keanekaragaman yang ada—tidak mengakui bahwa ada Orang Aceh atau Orang Papua. Ada anggapan pula yang menyatakan, kekayaan Aceh hanya diserap untuk Jawa. Maka dari itu, perlu adanya otonomi sebagai tanda penghargaan pada penerimaan keunikan dan kompleksitas yang ada.

Anderson juga mengemukakan bahwa keadaan nasional yang nyata akan terpenuhi dalam sistem pemerintahan, khususnya pengarahan otonomi daerah (tidak berdasarkan etnik). Ini akan membuat keadaan yang baik dan menciptakan kondisi atau budaya politik yang jujur serta menghilangkan tindak sadisme dan brutal dalam berpolitik. Ini membutuhkan cinta, cinta yang nyata bagi institusi nasional. Akhirnya untuk sampai ke sana Anderson mengatakan tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi nasionalis tanpa perasaan ‘malu’ jika negaranya berkomitmen pada kekerasan, yang meliputi perlakuan melawan penduduknya. Meskipun dia secara individu buruk, sebagai anggota dari proyek bersama dia harus punya perasaan moral yang diimplikasikan di dalam apa pun yang mengatasnamakan proyek. Mau dikatakan dengan perasaan malu itu menumbukan kesadaran akan komitmen bersama itu sebagai proyek bersama. Semua adalah dalam proses pembelajaran sebagai bangsa menuju nasionalisme yang utuh.◙


[1] Kaylamartya, “Sejarah Asal Mula Condet”, dalam  http://condet-betawi.blogspot.com/, diakses dari  Jakarta, 03 Juni 2009, pada pkl. 09.20

[2] Bdk. Ibid.

[3] Kaylamartya, “Sejarah Asal Mula Condet”

[4] Benedict R. Anderson, Indonesian Nationalism Today and in The Future, teks pidato yang dipresentasikan pada 04 Maret 1999 di Hotel Borobudur, Jakarta dalam rangka 20 Tahun ulang tahun TEMPO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s